Head Office : 
Jl. Kayu Putih Tengah Raya No.H54 PuloMas Jakarta Timur
Tel. +62-21 47864920 47865253
Hotline : 0815 911 8918 - 0812 936 5584
Tampilkan postingan dengan label Artikel Umroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Umroh. Tampilkan semua postingan

Yuk Ibadah Umrah

Umrah atau Umrah adalah salah satu ibadah didalam agama Islam yang tata cara pelaksanaannya dengan melakukan perjalanan ke Saudi Arabia dengan melaksanakan beberapa kegiatan yang wajib dilakukan yaitu : mengerjakan Ihram, Tawaf, Sai dan diakhiri dengan Tahalul.

Dibawah ini akan dijelaskan tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan ketika menjalankan ibadah Umrah. Kegiatan Umrah dan penjelasannya :
Ihram adalah kegiatan dalam ibadah umrah yang pelaksanaannya mengenakan pakaian Ihram (kain putih tanpa jahitan) dan mengucapkan niat umrah yang dilakukan di tempat Miqat (suatu tempat untuk melakukan Ihram biasanya di Bir Ali).

Tawaf adalah kegiatan dalam ibadah umrah yang pelaksanaannya mengelilingi Kabah sebanyak 7 keliling disertai dengan berdoa.

Sai adalah adalah kegiatan dalam ibadah umrah yang pelaksanaannya dengan berlari kecil pada batas yang telah ditentukan dan berjalan diantara Bukit Shofa sampai Bukit Marwah sebanyak 7 kali.

Tahalul adalah kegiatan dalam ibadah umrah yang pelaksanaannya dengan mencukur sebagian rambut atau bisa juga seluruh rambut, tahalul ini menunjukan sebagai tanda berakhirnya ibadah umrah. Ibadah Umrah ini wajib untuk seorang muslim yang telah mampu (berkecukupan di dalam harta).
Read More

Ongkos Biaya Haji ONH Plus 2013 Kuota Depag RI



oleh: Cheriatna BDR

Pemberitahuan kuota haji plus untuk tahun 2013 sudah habis bedasarkan pemberitahuan Depag RI saat ini antrian memasuki tahun 2016 . Sedangkan waiting list haji regular sudah mencapai 2022. Kuota haji regular per tahun adalah 194.000 orang. Maka segeralah mendaftar dan bergabung bersama kami

Ongkos Biaya Naik Haji ONH Plus 2013

1. Teori dan praktiknya sesuai dengan sunnah
2. Hotel bintang lima yang nyaman dan sangat dekat dengan masjid
3. Makan 3 kali prasmanan.
4. Buffe 24 jam 1)
5. transportasi darat nyaman dengan bus ekslusif ber-AC
6. Kajian Intensif setiap hari (kondisional)
7. Pembimbing berpengalaman dan diakui oleh Konsulat Jendral RI di Jeddah
8. Amanah dan pelayanan yang ramah

Keuntungan mendaftar sekarang :

1. Anda bisa segera mendapat porsi haji plus tahun 2016,InsyaAllah.
2. Bonus spesial :
a. Kartu Perdana Arab saudi (Mobily/ Sawa/ Zain)
b. Mushaf Al Quran
c. Gratis biaya suntik vaksin meningitis
d.Gratis kartu perdana nomor HP saudí arabia

Biaya Haji Plus / ONH Plus /  Ongkos Naik Haji
Biaya per orang :
Sekamar ber-4 = 8500 USD
Sekamar ber-3 = 9000 USD
Sekamar ber-2 = 9700 USD

PROGRAM HAJI KHUSUS/PLUS
Akomodasi :
a. Hotel Makkah : Shafwah Royal Orchid/setaraf *5
b. Hotel Madinah : Al Haram/setaraf *5
c. Hotel Jeddah : Holiday Inn/setaraf *5
d. Arofah-Mina : tenda AC

Harga Paket Sudah Termasuk

1. PENDAFTARAN KE DEPAG
o Pendaftaran dan pengurusan Haji ke Departemen Agama
o Setoran Biaya Haji ke Pemerintah cq. DEPAG
o Pengurusan Visa Haji

2. AKOMODASI / HOTEL DI MAKKAH, MADINAH , JEDDAH

3. KONSUMSI
o Sajian menu Indonesia 3 (tiga) kali / hari selama di Saudi.
o Minuman hangat / dingin tersedia.

4. KESEHATAN
Dokter Pendamping dan penyediaan obatan-obatan standar

5. ZIARAH
o Makkah : Gua Hiro / Jabal Nur, Gua Tsur, Jabal Rahmah, Masjid Namirah, Masjid Al Khaif, Masjid Masyaril Haram dll
o Madinah : Makam Rosulullah shalallahu'alaihi wasallam, Abu Bakar & Umar Bin Khattab, Baqi', Masjid Quba', Masjid Qiblatain, Masjid Khandaq, Jabal Uhud, Pasar/kebun Kurma, dan Percetakan Al Quran
o Jeddah : Pantai Laut Merah & Pusat Perbelanjaan

6. TIKET PESAWAT JAKARTA - JEDDAH - JAKARTA

7. BIMBINGAN / MANASIK HAJI
Bimbingan ibadah sesuai Al-Quran & Sunnah Rasulullah shallahu'alaihiwasallam. Pembekalan bagi jamaah agar dapat menunaikan haji secara mandiri dan benar. Pelaksanaan tiap tahapan non ibadah haji dalam bimbingan Muthowif yang santun dan berpengalaman.

8. PERLENGKAPAN
o Perlengkapan Haji : Ihrom / Mukena, Koper / Travel Bag, Botol Minuman, payung,Tas Kecil, Kain Seragam, Souvenir, Buku Manasik, dan Air Zam-Zam (5 liter per orang saat kepulangan).
o Bagasi 30 kg/orang atau sesuai ketentuan Maskapai Penerbangan.

Biaya Tidak Termasuk

• Pembuatan Passport
• Kelebihan Bagasi
• Ongkos tandu / kursi dorong
• Telepon/fax pribadi
• Laundry selama perjalanan
• Pengeluaran pribadi lainnya.


Persyaratan Daftar Haji:

1. Membayar uang muka 5.000 USD
2. FC KTP 10 lembar
3. FC KK 4 lembar
4. Surat keterangan sehat dari RS/puskesmas
5. Foto 3x4 = 40 dan 4x6 = 20
6. Mengisi formulir pendaftaran
7. Pelunasan 5 bulan sebelum pemberangkatan

GARANSI UANG KEMBALI

Jika jamaah mengundurkan diri oleh suatu sebab maka akan dikenakan biaya pembatalan sebesar :

1. 0% sejak pendaftaran hingga sebelum pendaftaran BPIH ke Depag
2. 10 % sejak pendaftaran sampai dengan penutupan awal BPIH dari pemerintah RI
3. 25 % sejak penutupan awal BPIH sampai 1 Ramadhan
4. 50 % sejak 2 Ramadhan sampai 1 Syawal
5. 85 % sejak 2 Syawal sampai tanggal keberangkatan
Read More

haji dan umroh


Haji dan Umroh

Haji dan Umroh

Haji dan umroh adalah kewajiban Allah Ta’ala kepada setiap Muslim jika mampu melaksanakannya, wajib dilaksanakan minimal sekali dalam seumur hidupnya. Hikmah diwajibkannya haji dan umroh adalah untuk membersihkan jiwa orang muslim dari dosa-dosa agar jiwa layak menerima kemuliaan Allah Ta’ala di dunia dan di akhirat, sebagaimana sabda Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:
“Barangsiapa haji ke rumah Allah ini (Baitullah), kemudian tidak berkata kotor, dan tidak fasik, ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan ibunya.” (Muttafaq Alaih)
Pembuat  Syari’at menganjurkan kaum Muslimin mengerjakan ibadah yang agung ini, haji dan umroh, memotivasi mereka mengerjakan keduanya, sebagaimana sabda Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:
“Umroh ke umroh lainnya adalah penghapus dosa-dosa diantara keduanya dan haji yang mabrur tidak mempunyai balasan kecuali surga.” (HR. A-Bukkhari)
Haji dan Umroh
Haji dan Umroh

Kapan Seseorang Wajib melaksanakan Ibadah Haji dan Umroh?

Seseorang sudah terkena kewajiban haji dan umroh jika memenuhi persyaratan berikut:
  1. Muslim, karena Iman / Islam adalah syarat mutlak keabsahan dan diterimanya amal perbuatan.
  2. Berakal, karena orang yang tidak berakal tidak dikenakan kewajiban ibadah.
  3. Baligh, adalah orang yang sudah dewasa, ini ditandai dengan mimpi (mimpi basah/junub) atau haidh bagi wanita. Sebagaimana sabda Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: “Pena diangkat dari tiga orang, orang gila hingga sembuh, orang tidur hingga bangun, dan anak kecil hingga bermimpi.”
  4. Mampu, mampu dari segi bekal, dan kendaraan menuju ke baitullah. Jika ia mampu secara bekal dan kendaraan namun jalan tidak aman dalam arti ia mengkhawatirkan keselamatan diri atau hartanya, maka haji dan umroh tidak wajib baginya. Demikian juga bagi wanita. Wanita harus ada mahram, maka dikatakan belum wajib hukumnya selama ia tidak mendapatkan mahram.

Perbadaan Ibadah Haji dan Umroh

Pada artikel sebelumnya yaitu artikel tentang: umroh, ibadah haji, cara-cara haji, cara-cara umroh bisa dipahami bahwa hanya ada satu yang membedakannya. Kita lihat bahwa rukun umroh terdiri dari tiga rukun yaitu: Ihram, Thawaf dan Sa’i. Sedangkan ibadah haji mempunyai empat rukun yaitu: Ihram, Thawaf, Sa’i dan ditambah Wukuf di Arafah.
Dari situ terlihat bahwa rukun haji adalah mengerjakan semua rukun umroh ditambah rangkaian ibadah wukuf di Arafah. Jadi yang membedakan keduanya hanyalah wukuf di Arafah. Walaupun wukuf di Arafah terdiri dari beberapa rankaian ibadah seperti mabid di Mina, wukuf di Arafah, terus ke Muzdalifah dan menginap, terus ke Mina lagi untuk lempar Jumah Aqabah, terus ke Mekkah untuk Thawaf dan Sa’i, dan balik lagi ke Mina untuk menyelesaikan lempar jumrah pada tanggal-tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Itulah perbedaan prinsip dari ibadah Haji dan Umroh, mudah-mudahan bisa dipahami. Untuk lengkap dan detailnya bisa dibaca pada artikel “ibadah haji” dan juga pada artikel “umroh.”
Read More

Ibadah Haji : Pengertian Haji , Tata Cara & Macam-Macam Haji


Ibadah Haji : Pengertian Haji , Tata Cara & Macam-Macam Haji

Pengertian Haji


Pengertian-Haji
Pengertian-Haji
Ibadah Haji merupakan salah satu ibadah yang hukumnya wajib. Diwajibkan bagi setiap muslim jika mampu melaksanakannya, dalilnya
Firman Allah Ta’ala:
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah swt, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Al Qur’an surat Ali Imron:97)
Ibadah Haji adalah rukun Islam dalilnya:
Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
“Islam dibangun diatas lima, kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah denagn benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, mendirikan Sholat, membayar zakat, haji ke Baitullah, dan puasa di bulan Ramadhan.” (Muttafaq Alaih)
Ibadah Haji adalah ibadah yang wajib ditunaikan sekali dalam seumur hidup, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam,
“Haji itu sekali dan barangsiapa melakukannya lebih dari sekali maka itu sunnah.” (Diriwayatkan Abu Daud, Ahmad, dan Al-Hakim yang men-shahih-kannya).
Diantara hikmah disyariatkannya ibadah haji adalah untuk membersihkan  jiwa orang muslim dari dosa. Rosulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,
“Barang siapa haji ke rumah ini (Baitullah), kemudian tidak berkata kotor, dan tidak fasik, ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan ibunya.” (Muttafaq Alaih).
“Haji yang mabrur tidak mempunyai balasan, melainkan surga.” (Muttafaq Alaih)

Macam-macam Haji (Ibadah Haji) 

Tata-cara-haji
Tata-cara-haji
Dalam melakukan Ibadah Haji terdapat tiga cara, yaitu: Haji Tamattu’, Haji Qiran dan Haji Ifrad.
Haji Tamattu’ adalah berihram untuk umroh pada bulan-bulan haji (Syawwal, Dzulqaidah, dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah), dan diselesaikan umrohnya pada waktu-waktu itu. Kemudian berihram untuk haji dari Mekkah atau sekitarnya pada hari Tarwiyah (tgl. 8 Dzulhijjah) pada tahun umrohnya tersebut.
Haji Qiran adalah berihram untuk umroh dan haji sekaligus, dan terus berihram (tidak tahallul) kecuali pada hari Nahr (tgl. 10 Dzulhijjah). Atau berihram untuk umroh terlebih dahulu, kemudian sebelum melakukan Thawaf Umroh memasukkan niat haji.
Haji Ifrad adalah berihram untuk haji dari miqot atau dari Mekkah bagi penduduk Mekkah, atau dari tempat lain didaerah miqot bagi yang tinggal disitu, kemudian tetap dalam keadaan ihramnya sampai hari Nahr apabila ia membawa binatang qurban. Jika tidak membawanya maka dianjurkan untuk membatalkan niat hajinya dan menggantinya dengan umroh, selanjutnya melakukan Thawaf, Sa’i, mencukur rambut atau bertahallul sebagaimana perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap orang yang berihram haji tetapi tidak membawa binatang qurban. Begitu pula bagi orang yang melakukan haji Qiran, apabila ia tidak membawa binatang qurban dianjurkan untuk membatalkan niat qirannya itu, dan menggantikannya menjadi umroh, sebagaimana yang tersebut diatas.
Ibadah Haji yang lebih utama ialah Haji Tamattu’ bagi yang tidak membawa binatang qurban, oleh karena Rasullulah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan hal itu dan menekankannya kepada para sahabat.

Tata Cara Haji

Berikut adalah tata cara melakukian Ibadah Haji:
  • Jika kita melakukan haji Ifrad atau Qiran, hendaklah kita berihram dari miqat yang anda lalui. Dan jika kita tinggal di daerah miqat, maka berihramlah menurut niat kita dari tempat tersebut. Dan jika kita melakukan haji Tamattu’, maka berihramlah dari tempat tinggal kita pada hari Tarwiyah, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah. Mandilah dan pakailah wangi-wangian lebih dahulu sekiranya hal itu memungkinkan, kemudian kenakanlah pakaian ihram, lalu berniatlah dengan membaca:
  • Kemudian keluarlah (tgl. 8 Dzulhijjah waktu Duha) menuju Mina. Lakukanlah Shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh disana, dengan cara meng-qashar shalat yang empat raka’at (Dzuhur, Ashar, dan Isya) menjadi dua raka’at pada waktunya masing-masing.
  • Apabila matahari telah terbit (waktuDuha) pada harikesembilan Dzulhijjah (tgl. 9 Dzulhijjah) esoknya, maka berangkatlah menuju Arafah dengan tanpa tergesa-gesa dan hindarilah jangan sampai mengganggu sesama jama’ah haji. Di Arafah lakukanlah Shalat Dhuhur dan Ashar dengan jama’ tqdim dan qashar dengan satu kali adzan dan dua kali iqamat. Tentang wukuf  ini, kita harus yakin bahwa kita benar-benar telah berada dalam batas Arafah (bukan di luarnya). Dan perbanyaklah dzikir dan do’a, sambil menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan, mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Padang Arafah seluruhnya merupakan tempat wukuf, dan hendaklah kita tetap berada disana hingga matahari terbenam.
  • Apabila matahari telah terbenam, berangkatlah menuju Muzdalifah dengan tenang sambil membaca talbiah, dan hindarilah jangan sampai mengganggu sesama muslim. Sesampainya di Muzdalifah, lakukanlah Shalat Maghrib dan Isya dengan jama’ dan qashar. Hendaklah kita menetap disana hingga melakukan Shalat Shubuh, perbanyaklah do’a dan dzikir hingga hari mulai tampak terang, sambil menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan, mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.
  • Kemudian berangkatlah sebelum matahari terbit menuju Mina sambil membaca talbiah. Bagi yang udzur, seperti wanita dan orang-orang yang lemah, boleh berangkat menuju Mina pada malam itu juga setelah lewat pertengahan malam. Dan pungutlah di Muzdalifah batu-batu kecil sebanyak tujuh biji saja untuk melempar jumrah Aqabah. Adapun yang lain cukup kita pungut dari Mina. Demikian juga tujuh batu yang akan kita pergunakan untuk melempar jumrah Aqabah pada hari raya, tak mengapa bagi kita untuk memungutnya di Mina.
  • Apabila telah tiba di Mina (10 Dzulhijja), lakukanlah hal-hal berikut:
    • Lemparkan jumrah aqabah, yaitu jumrah yang paling dekat dengan Mekkah, dengan tujuh batu kecil secara berurut-turut sambil bertakbir pada setiap kali lemparan.
    • Sembelihlah qurban jika kita berkewajiban melakukannya dan makanlah sebagian dagingnya, serta berikan sebagian besarnya kepada orang-orang fakir.
    • Bercukurlah dengan bersih (gundul) atau pendekkan rambut kita, akan tetapi mencukur bersih lebih utama. Sedangkan bagi wanita cukup menggunting ujung rambutnya kira-kira sepanjang ujung jari. Lebih utama jika ketiga perkara ini dilakukan dengan tertib. Namun tak mengapa jika mendahulukan yang satu atas yang lainnya.
  • Apabila kita telah selesai melempar jumrah dan mencukur, berarti kita telah melaksanakan tahallul Awwal, dan selanjutnya kita boleh mengenakan pakaian biasa dan melakukan hal-hal yang tadinya menjadi larangan ihram, kecuali brhubungan dengan istri.
  • Kemudian (masih tgl. 10 Dzulhijjah) berangkatlah menuju Mekkah dan lakukanlah Thawaf Ifadah, setelah itu lakukanlah Sa’i jika kita melakukan haji Tamattu’, haji Qiran maupun haji Ifrad, akan tetapi kita belum melakukan Sa’i setelah Thawaf Qudum. Dengan demikian kita diperbolehkan melakukan hubungan suami istri (tahallul Tsani).
  • Thawaf Ifadah ini boleh diakhirkan melakukannya sampai lewat hari-hari Mina, dan menuju Mekkah setelah melempar jumrah.
  • Setelah Thawaf Ifadah pada hari Nahr, kemudian ke Mina. Bermalamlah disana pada hari Tasyrik, yaitu tgl. 11, 12, dan tgl. 13 dan tidak mengapa jika kita bermalam hanya dua malam saja.
  • Lemparlah ketiga jumrah selama kita menetap dua atau tiga hari di Mina, setelah matahari tergelincir. Kita mulai dari Jumratul Ula, yaitu yang terjauh jaraknya dari Mekkah, kemudian Jumratul Wustha (tengah) dan selanjutnyaJumratul Aqabah, setiap jumrah dengan tujuh batu kecil secara berturut-turut sambil bertakbir pada setiap kali lemparan.
  • Jika kita menghendaki untk menetap selama dua hari saja, hendaklah meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam dihari kedua itu (Nafar Awwal). Dan jika matahari telah terbenam sebelum kita keluar dari Mina, maka hendaknya bermalam lagi pada malam hari ketiga itu (Nafar Tsani). Dan lebih utama hendaknya anda bermalam pada malam ketiga tersebut.
  • Bagi yang sakit atau lemah, boleh mewakilkan kepada orang lain untuk melempar jumrah, dan bagi siapa yang mewakili (orang lain), boleh melempar untuk dirinya sendiri terlebih dahulu, kemudian untuk yang diwakilinya pada satu tempat jumrah.
  • Apabila kita hendak kembali ke kampung halaman setelah menyelesaikan segala amalan haji, lakukanlah thawaf wada’, kecuali bagi wanita yang sedang haidh dan yang baru melahirkan (nifas).
Read More

Thawaf : Pengertian Thawaf dan Tata Cara Thawaf

Pengertian-thawaf


Pengertian Thawaf

Thawafadalah berjalan mengelilingi sekitar Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Ibadah Thawaf ini ada dua yaitu: Thawaf Haji dan Thawaf Umroh. Thawaf dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di hajar Aswad juga. Saat melakukan Thawaf , Baitullah (Ka’bah) harus berada disamping kiriorang yang Thawaf, dengan kata lain melakukan putaran thawaf dengan putaran kiri (berlawanan dengan arah jarum jam).
Ketujuh putaran Thawaf harus diselesaikan / dilakukan dalam satu waktu, dalam arti tanpa jeda diantara putaran Thawaf kecuali karena keadaan darurat. Jika terdapat jeda bukan dikarenakan Udzur, maka Thawaf tidak sah dan harus diulang dari awal. Mulai dari putaran pertama walaupun tadi sudah enam putaran.

Tata Cara melakukan Thawaf

  1. Thawaf dimulai dari Hajar Aswad dengan memilih diantar cara berikut:
    1. Taqlil (mengecup) Hajar Aswad
    2. Istilam (menjamah, menhusap) Hajar Aswad boleh dengan tangan atau tongkat, kemudian dikecup.
    3. Isyarat tangan (seperti melambai) dan tangan tidak perlu dikecup.
    4. Istilam dan Taqlil sekaligus sambil membaca: BISMILLAH WALLAHU AKBAR
    5. “Dengan menyebut Nama Allah , Allah Maha Besar” (Ibn Asakir)
    6. Selanjutnya hadap kanan dan mulailah mengelilingi Ka’bah sampai tujuh kali putaran.
      1. Bagi laki-laki, tiga putaran pertama dilakukan dengan berlari-lari kecil (Raml) jika bisa, dan sisa putaran lainnya dengan berjalan biasa. Bagi wanita tidak ada lari-lari kecil, cukup berjalan biasa.
      2. Setiap sampai dirukun Yamani, kalau bisa diusap tanpa dikecup dan tidak ada isyarat, terus berjalan kearah Hajar Aswad, sambil berdo’a:
RABBANA AATINA FIDDUN YA HASANAH, WAFIL AKHIRATI HASANAH WAQINA ADZABANNAR
“Ya Allah, berikanlah kebaikan di duina dan berikan kami kebaikan di akhirat, dan hindarkan kami dari siksa neraka” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
  1. Setelah sampai Hajar Aswad lakukan seperti pada permulaan.
  2. Shalat di belakang Maqam Ibrahim
    1. Bila tujuh putaran Thawaf telah selesai, berjalanlahkebelakang maqam Ibrahimmencari tempat untuk shalat dua raka’at. Ketika melintas di maqam Ibrahim, bacalah:
WAT TAKHIDZU MIM MAQAMI IBRAHIMA MUSHALLA
“Dan jadikanlah oleh kalian sebagian dari maqam Ibrahim itu tempat shalat” (HR. Muslim)
  1. Setelah mendapat tempat dibelakang maqam Ibrahim, kalau tidak mendapatkanya bisa dimana saja yang penting masih di Masjidil Haram, lakukanlah shalat dua raka’at. Raka’at pertama membaca Al-Kafirun, raka’at kedua membaca surat Al-Ikhlas dengan Jahr (dikeraskan bacannya). Bagi wanita, cukup didengar sendiri. Bacaan suratan tadi setelah membaca Al-Fatihah tentunya.
  2. Kembali ke Hajar Aswad
    1. Seusai shalat, kembali ke Hajar Aswad untuk Taqbil, Istilam, atau Isyarat, sambil membaca:
BISMILLAHI ALLAHU AKBAR
“Dengan menyebut Nama Allah, Allah yang Maha Besar”
  1. Menuju tempat air Zamzam untuk minum dan mengisi wadah air minum dengan air zamzam
  2. Selanjutnya pergi ketempat Sa’i
Shalat dua raka’at usai thawaf di belakang maqam Ibrahim, pada raka’at pertama membaca surat Al-Kafirun dan membaca surat Al-Ikhlas pada raka’at kedua.
Meminum air dari sumur Zamzam dan mengisi tempat airnya  juga termasuk dalam rankaian ibadah Thawaf.

Beberapa Kesalahan Dalam Thawaf

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh sebagian jama’ah haji, diantaranya:
  1. Memulai thawaf sebelum Hajar Aswad, sedang yang wajib haruslah dimulai dar Hajar Aswad.
  2. Thawaf didalam Hijr Ismail. Itu berarti ia tidak mengelilingi Ka’bah, tapi hanya sebagiannya saja, karena Hijr Ismail termasuk Ka’bah, maka dengan demikian thawafnya tidak sah (batal).
  3. Raml (berjalan cepat) pada seluruh putaran yang tujuh. Padahal Raml itu hanya dilakukan pada tiga putaran pertama dan itupun tertentu dalam Thawaf Qudum saja.
  4. Berdesak-desakan untuk dapat mencium Hajar Aswad, dan kadang-kadang sampai pukul-memukul dan saling mencaci maki. Hal itu tidak boleh, karena dapat menyakiti sesama muslim, disamping memaki dan memukul antar sesama muslim itu dilarang kecuali dengan jalan yang dibenarkan agama.
  5. Tidak mencium Hajar Aswad sebenarnya tidak membatalkab thawaf, thawafnya tetap sah sekalipun tidak menciumnya. Maka cukuplah dengan berisyarat (melambaikan tangan) dan bertakbir disaat berada sejajar dengan Hajar Aswad, walaupun dari jauh.
  6. Mengusap-usap Hajar Aswad dengan maksud untuk mendapatkan barokah dari batu itu. Hal ini adalah bi’ah, tidak mempunyai dasar sama sekali dalam syariat Islam. Sedang menurut tuntunan Rasullullah Shallallahu alaihi wa Sallam cukup dengan menjamah dan menciumnya saja. Itupun kalau memungkinkan.
  7. Menjamah seluruh pojok Ka’bah, bahkan kadang-kadang menjamah dan mengusap-usap seluruh dindingnya. Padahal Rasullullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah menjamah bagian-bagian Ka’bah kecuali Hajar Aswad dan RukunYamani saja.
  8. Menentukan do’a khusus untuk setiap putaran thawaf. Karena hal itu takpernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Adapun yang beliau lakukan setiap melawati Hajar Aswad adalah bertakbir. Pada setiap akhir putaran antara Hajar Aswad dan Rukun Yamani beliau membaca:
RABBANA AATINA FIDDUN YA HASANAH, WAFIL AKHIRATI HASANAH WAQINA ADZABANNAR
“Ya Allah, berikanlah kebaikan di duina dan berikan kami kebaikan di akhirat, dan hindarkan kami dari siksa neraka” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
9. Mengeraskan suara pada waktu thawaf sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian jama’ah atau para muthawwif yang dapat mengganggu orang lain yang juga melakukan thawaf.
10 Berdesak-desakan untuk melakukan shalat di dekat Maqam Ibrahim. Hal ini menyalahi sunnah, disamping mengganggu orang-orang yang sedang thawaf. Maka cukup melakukan shalat dua raka’at itu ditempat lain didalam Masjidil Haram.
Read More

Paket Umroh 2013; Ibadah Sa’i : Pengertian Sa’i & Tata Cara Sa’i


Pengertian-sa'i

Ibadah Sa’i : Pengertian Sa’i, Tata Cara Sa’i & Kesalahan Sa’i

Pengertian Sa’i


Pengertian-sa'i
Pengertian-sa’i
Ibadah Sa’i yaitu berjalan di antara Shafa dan Marwa pulang-pergi sebanyak tujuh kali dengan niat ibadah. Sa’i merupakan salah satu rukun haji. Sa’i dan thawaf dilakukan secara berurutan dan sekaligus dalam arti tidak memisahkan keduanya tanpa udzur syar’i.

Tata Cara Ibadah Sa’i

Ibadah Sa’i dimulai setelah menyelesaikan Ibadah Thawaf. Setelah thawaf kita menuju bukit Shafa. Setelah sampai dibukit Shafa, baca :
INNAS SHAFA WAL MARWATA MIN SYA’AIRILLAH
“Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar-syi’ar Allah.” (HR. Ahmad, Muslim dan An Nasa’i)
Kemudian naik ke bukit Shafa, menghadap Qiblat, lalu membaca:
ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKALAH, LAHUL MULKI WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALA KULLISYAI’IN QADIIR. LAA ALAHA ILLALLAHU WAHDAH, ANJAZA WA’DAH WANAHSARA ‘ABDAH, WAHAZAMAL AHZABA WAHDAH.
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada Tuhan melainkan Allah. Yang tunggal tidak ada sekutu bagi-NYA, bagi-NYA segala puji dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Tidak ada Tuhan selain Allah. Yang tunggal yang memenuhi semua janji-NYA dan yang menolong hamba-NYA dan yang menghancurkan musuh sendirian.” (HR. Ahmad, Muslim, An Nasa’i)
Sa'i-haji
Sa’i-haji
Bacaan ini dilakukan sampai tiga kali. Setiap pengulangan, diteruskan dengan berdo’a sesuka hati dengan bahasa apa saja sambil mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi.
Kemudian, turun dari Shafa menuju Marwah. Ketika sampai pada tanda hujau (lampu hijau). Laki-laki berlari-lari kecil sampai dengan tanda hijau berikutnya. Dilanjutkan lagi dengan jalan biasa. Bagi kaum wanita, tidak berlari berlari-lari kecil. Sesampainya di Marwah itu dihitung satu kali Sa’i, demikian pula sebaliknya, sampai tujuh kali. Jadi, Sa’i dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah. Kemudian kita keluar dari Masjid (masih dilingkungan masjid) untuk Tahallul.

Beberapa Kesalahan dalam Ibadah Sa’i

  1. Ada sebagian jama’ah haji, ketika naik keatas Shafa dan Marwah, mereka menghadap Ka’bah dan mengangkat tangan ke arahnya sewaktu membaca takbir, seolah-olah mereka bertakbir untuk shalat. Hal ini keliru, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengangkat kedua telapak tangan beliau yang mulia hanyalah disaat berdo’a.
  2. Di bukit itu, cukuplah membaca tahmid dan takbir serta berdo’a kepada Allah sesuka hati sambil menghadap qiblat. Dan lebih utama lagi membaca dzikir yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam saat beliau di bukit Shafa dan Marwah.
  3. Berjalan cepat pada waktu Sa’i antara Shafa dan Marwah pada seluruh putaran. Padahal menurut sunnah Rasul, berjalan cepat itu hanyalah dilakukan antara kedua tanda hijau saja. Adapun yang lain cukup hanya dengan berjalan biasa.
Read More

Paket Umroh 2013 ; Ibadah Umroh : Pengertian Umroh dan Tatacara Umroh

Tatacara-umroh

IBADAH UMROH : Pengertian Umroh dan Tatacara Umroh

Pengertian Umroh


Tatacara-umroh
Tatacara-umroh
Ibadah Umroh adalah serangkaian ibadah yang terdiri dari Ihram, Thawwaf, Sa’i dan memotong rambut atau tahallul. Diantara hikmah dari ibadah Umroh adalah sebagai penebus dosa hal ini disebutkan dalam sebuah hadits: Sabda Rosulullah Shallallahu Alaihi wa Salam, (yang artinya):
“Umroh ke umroh lainnya adalah penghapus dosa-dosa diantara keduanya dan Haji yang mabrur tidak mempunyai balasan kecuali surga.” (Hadits riwayat Al-Bukhari)
Ibadah Umroh termasuk ibadah yang diwajibkan oleh Allah Ta’ala kepada setiap muslim dengan kriteria tertentu, atau syarat-syarat wajibnya menunaikan ibadah Umroh.

Syarat Umroh

Umroh diwajibkan kepada orang muslim yang memenuhi syarat-syarat berikut:
  1. Muslim. Hanya diwajibkan bagi yang beragama Islam (muslim)
  2. Berakal. Artinya tidak gila.
  3. Baligh. Artinya sudah dewasa, Laki-laki ditandai(salah satunya) dengan mimpi basah dan perempuan ditandai dengan menstruasi.
  4. Mampu. Mampu dalam arti biaya, ada kendaraan yang mengantarkan kesana. Juga keamanan dalam arti keselamatan

Tatacara Umroh

Pengertian-umroh
Pengertian-umroh
Berikut adalah urutan kegiatan Umroh berdasarkan waktu dan tempat:
  1. Apabila kita telah sampai di miqat, maka mandilah dan pakailah wangi-wangian jika hal itu dimungkinkan, kemudian kenakanlah pakaian ihrom/ihram, diutamakan berwarna putih. Bagi wanita boleh mengenakan pakaian yang disukai, dengan syarat tidak menampakkan perhiasan. Setelah berniat ihram untuk umroh seraya mengucapkan Talbiah. Bagi kaum pria hendaknya mengucapkan talbiah ini dengan suara keras, sedangkan bagi wanita hendaknya mengucapkannya dengan suara pelan. Kemudian perbanyaklah membaca talbiah, dzikir dan istighfar serta menganjurkan berbuat baik dan mencegah kemungkaran.
  2. Apabila kita telah sampai di Mekkah, maka lakukanlah thawaf di Ka’bah sebanyak tujuh putaran, dimulai dari Hajar Aswad sambil bertakbir dan selesai di Hajar Aswad juga. Bacalah dzikir serta do’a yang anda kehendaki. Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad sebaiknya kita membaca: Kemudian setelah Thawaf, lakukanlah Sholat dua raka’at dibelakang maqam Ibrahim ‘Alaihi Salam walaupun agak jauh dari tempat tersebut jika hal itu mungkin, jika tidak mungkin, lakukan Sholat ditempat lain di dalam Masjid.
  3. Kemudian keluarlah menuju Shafa dan naiklah ke atasnya sambil menghadap Ka’bah, bacalah tahmid serta takbir tiga kali sambil mengangkat kedua tangan, bacalah do’a dan ulangilah setiap do’a tiga kali sesuai sunnah Rasulullah saw, lalu ucapkanlah: . Ucapkanlah bacaan tersebut tiga kali, dan tak mengapa apabila kita baca kurang dari itu. Kemudian turunlah dan lakukan Sa’i Umroh sebanyak tujuh kali putaran dengan berjalan cepat diantara tanda hijau dan berjalan biasa sebelum dan sesudah tanda tersebut, kemudian naiklah kita keatas Marwah, lalu bacalah takbir dan tahmid tiga kali apabila mungkin sebagaimana yang dilakukan di Shafa. Dalam Thawaf ataupun Sa’i, tidak ada bacaan dzikir wajib yang khusus untuk itu. Akan tetapi dibolehkan bagi yang melakukan Thawaf atau Sa’i untuk membaca dzikir dan do’a atau bacaan Al Qur’an yang mudah bagi kita, dengan mengutamakan bacan-bacaan dzikir dan do’a yang bersumber dari tuntunan Rosulullah saw.
  4. Bila kita telah selesai melakukan Sa’i, maka cukurlah dengan bersih (gundul) atau pendekkan rambut kepala kita. Sampai disini selesailah prosesi Umroh kita dan selanjutnya kita diperbolehkan melakukan hal-hal yang tadinya menjadi larangan Ihram.


Read More

Paket Umroh 2013, Denah Masjidil Haram


Read More

Paket Umroh 2013, Manasik Umroh

Manasik Umroh
Persiapan Umroh dan tatacara pelaksanaannya.
Syarat , Rukun dan Wajib Umroh
A. Syarat Umroh
• Islam
• Baligh (dewasa)
• Berakal sehat (tidak terganggu fikirannya)
• Merdeka (bukan budak belian)
• Istitho’ah (mampu)
B. Rukun Umroh
• (niat) ihram
• Tawaf umroh
• Sa’i
• Bercukur (tahallul)
• Dikerjakan secara tertib.
C. Wajib Umroh
• Niat umroh dari miqat.
• Tidak berbuat hal-hal yang haram/ memba-talkan niat.
D. Larangan selama dalam keadaan ihram.
A. Untuk pria
• Memakai pakaian yang dijahit
• Memakai alas kaki yang menutup mata kaki.
• Sengaja menutup kepala sampai menyentuh
rambut (kecuali dalam keadaan yang sangat darurat).
B. Untuk wanita
• Menutup telapak tangan.
• Menutup muka.
C. Untuk semua
• Memakai wangi-wangian (kecuali yang sudah dipakai sebelum niat ihram).
• Memotong kuku, mencukur/mencabut bulu /rambut
• Memburu atau membunuh binatang.
• Menikah atau menikahkan.
• Bercumbu atau bersetubuh
• Bertengkar, memarahi atau mengucapkan
kata-kata yang tidak senonoh/kotor.
• Memotong atau mencabut pohonan di tanah haram
Jika ada larangan di atas yang dilanggar maka ia harus membayar dam (denda), yakni dari mulai memberi makan fakir sampai menyembelih seekor kambing. Tanyakan kepada pembimbing atau mutawif tentang besarnya dam yang harus dikeluarkan, jika anda merasa melanggar larangan di atas.
E. Persiapan umroh.
1. Mandi sunnah, dengan niat untuk ihram.
2. Wudhu
3. Kenakan kain ihram (dilarang memakai wangi-wangian)
4. Sholat sunnah ihram 2 rakaat (akan kita lakukan di mesjid bir ali/atau dimiqot). Rakaat pertama dianjurkan membaca surat al kaafirun dan rakaat ke dua membaca surat al ikhlas.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ


قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْكَٰفِرُونَ ﴿١﴾ لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ ﴿
5. Niat umroh (labbaika allahumma umratan)
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً
6. Membaca talbiah sampai ke makkah/mesjid haram.
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك

TATA CARA PELAKSANAAN UMRAH
Pertama:
Jika seseorang akan melaksanakan umrah, dianjurkan untuk mempersiapkan diri sebelum berihram dengan mandi sebagaimana seorang yang mandi junub, dan memakai pakaian ihram.
Kedua:
Pakaian ihram bagi laki-laki berupa dua lembar kain ihran yang berfungsi sebagai sarung dan penutup pundak. Adapun bagi wanita, ia memakai pakaian yang telah disyari’atkan yang menutupi seluruh tubuhnya. Namun tidak dibenarkan memakai cadar/ niqab (penutup wajahnya)
Ketiga:
Berihram dari miqat untuk dengan mengucapkan:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ عُمْرَةً
labbaika Allahumma ‘umratan” (aku memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan ibadah umrah).
Keempat:
Jika khawatir tidak dapat menyelesaikan umrah karena sakit atau adanya penghalang lain, maka dibolehkan mengucapkan persyaratan setelah mengucapkan kalimat di atas dengan mengatakan,
اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي
Allahumma mahilli haitsu habastani” (Ya Allah, tempat tahallul di mana saja Engkau menahanku).
Dengan mengucapkan persyaratan ini—baik dalam umrah maupun ketika haji--, jika seseorang terhalang untuk menyempurnakan manasiknya, maka dia diperbolehkan bertahallalul dan tidak wajib membayar dam (menyembelih seekor kambing).
Kelima:
Tidak ada alat khusus untuk berihram, namun jika bertepatan dengan waktu shalat wajib, maka shalatlah lalu berihram setelah shalat.
Keenam:
Setelah mengucapkan “talbiah umrah” (pada poin ketiga), dilanjutkan dengan membaca dan memperbanyak talbiah berikut ini, sambil mengeraskan suara bagi laki-laki dan lirih bagi perempuan hingga tiba di Makkah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك
Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu,  aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).
Ketujuh:
Jika memungkinkan, seseorang dianjurkan untuk mandi sebelum masuk kota Makkah.
Kedelapan:
Masuk Masjidil Haram dengan mendahulukan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid:
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
Allahummaf-tahlii abwaaba rohmatik” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).[1]
Kesembilan:
Menuju ke Hajar Aswad, lalu menghadapnya sambil membaca بِسْمِ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَر Allahu akbar” atau “Bismillah Allahu akbar” lalu mengusapnya dengan tangan kanan dan menciumnya. Jika tidak memungkinkan untuk menciumnya, maka cukup dengan mengusapnya, lalu mencium tangan yang mengusap hajar Aswad. Jika tidak memungkinkan untuk mengusapnya, maka cukup dengan memberi isyarat kepadanya dengan tangan, namun tidak mencium tangan yang memberi isyarat. Ini dilakukan pada setiap putaran thawaf.
Kesepuluh:
Kemudian, memulai thawaf umrah 7 putaran, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad pula. Dan disunnahkan berlari-lari kecil pada 3 putaran pertama dan berjalan biasa pada 4 putaran terakhir.
Kesebelas:
Disunnahkan pula mengusap Rukun Yamani pada setiap putaran thawaf. Namun tidak dianjurkan mencium rukun Yamani. Dan apabila tidak memungkinkan untuk mengusapnya, maka tidak perlu memberi isyarat dengan tangan.
Keduabelas:
Ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, disunnahkan membaca,
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Robbana aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Rabb kami, karuniakanlah pada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa neraka). (QS. Al Baqarah: 201)
Ketigabelas:
Tidak ada dzikir atau bacaan tertentu pada waktu thawaf, selain yang disebutkan pada no. 12. Dan seseorang yang thawaf boleh membaca Al Qur’an atau do’a dan dzikir yang ia suka.
Keempatbelas:
Setelah thawaf, menutup kedua pundaknya, lalu menuju ke makam Ibrahim sambil membaca,
وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى
Wattakhodzu mim maqoomi ibroohiima musholla” (Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat) (QS. Al Baqarah: 125).
Kelimabelas:
Shalat sunnah thawaf dua raka’at di belakang Maqam Ibrahim[2], pada rakaat pertama setelah membaca surat Al Fatihah, membaca surat Al Kaafirun dan pada raka’at kedua setelah membaca Al Fatihah, membaca surat Al Ikhlas.[3]
Keenambelas:
Setelah shalat disunnahkan minum air zam-zam dan menyirami kepada dengannya.
Ketujuhbelas:
Kembali ke Hajar Aswad, bertakbir, lalu mengusap dan menciumnya jika hal itu memungkinkan atau mengusapnya atau memberi isyarat kepadanya.

SA'I UMRAH
Kedelapanbelas:
Kemudian, menuju ke Bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i umrah dan jika telah mendekati Shafa, membaca,
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
Innash shafaa wal marwata min sya’airillah”  (Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah) (QS. Al Baqarah: 158).
Lalu mengucapan,
نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ
Nabda-u bimaa bada-allah bih”.
Kesembilanbelas:
Menaiki bukit Shafa, lalu menghadap ke arah Ka’bah hingga melihatnya—jika hal itu memungkinkan—, kemudian membaca:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  (3x)
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ
“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. (3x)
Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan dan segala pujian untuk-Nya. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata. Dialah yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan tentara sekutu dengan sendirian.”[4]
Keduapuluh:
Bacaan ini diulang tiga kali dan berdoa di antara pengulangan-pengulangan itu dengan do’a apa saja yang dikehendaki.
Keduapuluhsatu:
Lalu turun dari Shafa dan berjalan menuju ke Marwah.
Keduapuluhdua:
Disunnahkan berlari-lari kecil dengan cepat dan sungguh-sungguh di antara dua tanda lampu hijau yang beada di Mas’a (tempat sa’i) bagi laki-laki, lalu berjalan biasa menuju Marwah dan menaikinya.
Keduapuluhtiga:
Setibanya di Marwah, kerjakanlah apa-apa yang dikerjakan di Shafa, yaitu menghadap kiblat, bertakbir, membaca dzikir pada no. 19 dan berdo’a dengan do’a apa saja yang dikehendaki, perjalanan (dari Shafa ke Marwah) dihitung satu putaran.
Keduapuluhempat:
Kemudian turunlah, lalu menuju ke Shafa dengan berjalan di tempat yang ditentukan untuk berjalan dan berlari bagi laki-laki di tempat yang ditentukan untuk berlari, lalu naik ke Shafa dan lakukan seperti semula, dengan demikian terhitung dua putaran.
Keduapuluhlima:
Lakukanlah hal ini sampai tujuh kali dengan berakhir di Marwah.
Keduapuluhenam:
Ketika sa’i, tidak ada dzikir-dzikir tertentu, maka boleh berdzikir, berdo’a, atau membaca bacaan-bacaan yang dikehendaki.
Keduapuluhtujuh:
Jika membaca do’a ini:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ
Allahummaghfirli warham wa antal a’azzul akrom” (Ya Rabbku, ampuni dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa dan Maha Pemurah), tidaklah mengapa  karena telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya mereka membacanya ketika sa’i.
Keduapuluhdelapan:
Setelah sa’i, maka bertahallul dengan memendekkan seluruh rambut kepala atau mencukur gundul, dan yang mencukur gundul itulah yang lebih afdhal. Adapun bagi wanita, cukup dengan memotong rambutnya sepanjang satu ruas jari.
Keduapuluhsembilan:
Setelah memotong atau mencukur rambut, maka berakhirlah ibadah umrah dan Anda telah dibolehkan untuk mengerjakan hal-hal yang tadinya dilarang ketika dalam keadaan ihram.
 
Read More

TATA CARA UMRAH


BISMILLAAHIR RAHMAANIR RAHIEM.
Segala puji bagi Allah Ta'ala. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan selalu kepada Rasul terakhir, segenap keluarga dan semua sahabatnya. Amma ba'du:

Bulletin ini berisi intisari dari pekerjaan ibadah umrah. Dipersembahkan untuk para pembaca budiman yang ingin melaksanakannya, disertai asa supaya pelaksanaan ibadah umrahnya sesuai dengan contoh umrah Nabi kita Muhammad r. Selamat mengikuti:
Jika sampai di miqat, orang yang hendak melaksanakan ibadah umrah disunnahkan untuk mandi dan membersihkan badannya. Demikian juga berlaku bagi kaum Hawa walaupun sedang haid atau nifas, hanya saja mereka nanti tidak boleh melakukan thawaf mengelilingi Ka'bah sampai mereka suci. Adapun kaum pria sebaiknya mengenakan parfum pada badannya saja tidak pada pakaian ihramnya. Jika hal ini tidak memungkinkan maka tidak mengapa. Apabila tiba di Mekah sebelum melaksanakan thawaf dan memang memungkinkan, maka sunnah bagi mereka melakukan mandi lagi.
Bagi kaum pria hendaknya melepas seluruh pakaiannya yang berjahit. Kemudian mengenakan dua potong kain putih (sunnah hukumnya) dan membuka kepalanya. Sedangkan kaum wanita, berihram dengan pakaian biasa yang dikenakannya tanpa hiasan, bercorak dan berwarna yang menarik perhatian orang lain.
Setelah berniat dalam hatinya untuk memasuki rangkaian ibadah umrah dan melafazkan dengan lisannya: "Labbaika 'umratan." Atau "Allahumma labbaika 'umratan." Jika dia takut tidak mampu merampungkan ibadah umrah nya karena sakit atau ada musuh, maka dibolehkan mengajukan syarat setelah niat ihram dengan ucapan: "Fa-in habasanii haabisun fa-mahillii haitsu habas-tanii" = "Jika ada yang menghalangi diri hamba (Ya Allah), maka tempat tahallul hamba ialah di tempat Engkau tahan diriku." Hal ini berdasarkan hadits Dhuba'ah binti Zubari ketika bertanya: Ya Rasulullah, sungguh saya ingin berhaji tapi saya tidak fit. Maka Nabi r menjawab: "Berhajilah dan ambillah syarat dengan mengucapkan, Ya Allah bahwasanya tempat tahallul hamba berada di tempat mana saja Engkau menahan idri hamba." (Muttafaq 'alaih). Kemudian lanjutkan dengan mengucapkan talbiyah yang dulu diucapkan Rasulullah : "Labbaikallaahumma labbaik, labbaika laa syaarika laka labbaik, innal hamda wan-ni'mata laka wal mulk, laa syariika lak." = Ya Allah, hamba sambut panggilanMu. Hamba sambut panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu., hamba sambut panggilanMu. Sesungguhnya seluruh pujian, kenikamatan dan kerajaan hanyalah milikMu, tiada sekutu bagiMu." Perbanyak dan ulang-ulanglah talbiyah ini, juga zikir dan berdoa kepada Allah. Jika telah sampai Masjidil Haram, disunnahkan untuk mendahulukan kaki kanannya ssambil berdoa: "Bismillaah, was shalatu was-salaamu 'alaa Rasulillaah. A'uudzu billaahiil 'azhiimi wa biwajhihil kariimi wa-sulthaanihil qadiimi minas syaithaanir rajiim. Allaahummaf-tahlii abwaaba rahmatik." = "Dengan menyebut asma Allah, shalawat dan salam semoga dilimpahkan atas dri Rasulullah, hamba berlindung diri kepda yang Maha Agung, dengan wajah muliaNya dan kesultanan terdahuluNya dari godaan setan yang terkutuk. Ya Allah, bukalah pintu rahmatMu untuk hamba." Seperti doa saat anda memasuki mesjid-mesjid yang lain, terus lanjutkan dengan membaca talbiyah hingga and tiba di hadapan Ka'bah.
Jika tiba di hadapan Ka'bah maka hentikan talbiyah. Kemudian pergila menuju hajar aswad dan peganglah ia dengan tangan kanan lalu ciumlah jika memang mudah dan menungkinkan tanpa berdesak-desakan dan menyakiti orang lain. Saat menciumnya, bacalah: "Bismillaahi Allaahu Akbar," atau cukup dengan "Allaahu Akbar." Jika memang susah untuk menciumnya maka sentuhlah dengan tangan atau dengan tongkat atau yang semisalnya lalu ciumlah tangan atu alat tersebut. Apabila susah untuk melakukan hal itu semua maka berilah isyarat dengan tangan sambil mengucapkan: "Allaahu Akbar" tanpa mencium alat yang digunakan untuk isyarat. Dalam thawaf disyaratkan, bebas dari hadats kecil dan besarbagi orang yang melakukannya. Karena thawaf adalah seperti halnya shalat hanya saja dalam pelaksanaanya berbicara tidak dilarang.
Hendaknya menjadikan Ka'bah selalu berada di samping kirinya dan mengelilinginya 7 kali putaran. Jika mudah baginya saat sampi atau searah dengan rukun Yamani (sudut sebelum Hajar Aswad) maka peganglahia dengan tangan kanan tanpa menciumnya sambil mengucapkan: "Bismillaahi Allaahu Akbar." Jika hal itu sulit maka lewatilah saja tanpa isyarat dan tanpa bertakbir sebagaimana keterangan dari Rasulullah . sedangkan Hajar Aswad, setiap melewatinya hendaknya memgang dan menciumnya dan bertakbit –seperti keterangan di depan- atau memberi isyarat dan bertakbir. Dalam 3 putaran pertama bagi kaum pria pada thawaf umrah atau qudum (pertama kali datang saat berhaji) maka disunnahkan melakukan raml yaitu mempercepat jalan dengan langkah-langkah yang berdekatan. Demikian pula disunnahkan melakukan idh-tiba' dalam seluruh putaran. Idh-tiba' ialah mengenakan bagian tengah kain ihram di bagian bawah ketiak kanan dan menjadikan dua buah ujungnya di pundak sebelah kiri. Disunnahkan pula memperbanyak dzikir dan doa dalam seluruh putaran. Karena dalam thawaf tidak da dzikir dan doa secara khusus dari Rasulullah kecuali antara rukun Yamani dan Hajar Aswad. Beliau saat itu membaca: "Rabbanaa aatinaa fiddunyaa hasanah, wafil aakhirati hasanah, waqinaa 'adzaaban Naar." Lalu mengakkhiri putaran ke 7 (terakhir) dengan mencium Hajar Aswad atau memberi isyarat kepadanya sambil bertakbir, seeprti yang dilakukan pada saat start. Setelah mengerjakan thawaf maka kenakan pakiaian bagian atas menuitupi pundak sedangkan ujungnya meneutupi dada.
Setelah itu lakukan shalat dua raka'at di belakang Maqam Ibrahim (yaitu tempat pijakan beliau saat membangun Ka'bah, bukan kurburnnya) jika hal itu memungikinkan, tapi jika tidak maka lakukanlah di makana saja dalam Masjidil Haram. Bacalah surat al-Kafirun pada raka'at pertama setelah Fatihah dan surat Ikhlas setelah fatihah raka'at kedua. Demikian ini adalah yang lebih afdhal, tapi tidak mengapa jika membaca surat atau ayat yang lian. Setelah itu pergilah ke Hajar Aswad dan peganglah dengan tangan kanan jika memang mudan memungkinkan.
Setelah itu pergilah ke bukit Shafa dan naiklah atau sekedar singgah di sana, sedangkan yang lebih afdhal adalah menaikinya jika hal ini tidak sulit. Saat anda mendekati Shafa, bacalah: "Innas Shafaa wal Marwata min Sya'aa-irillaah," lalu "Abda-u bimaa bada-allaahu bih," terus menghadap ke kiblat lalu ucapkanlah: "Al-Hamdu lillaahi wallaahu Akbar, kemudian "Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar, laa ilaaha illallaahu wahdahuu laa syarikalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa 'alaa kulli sya-in qadiir. Laa ilaaha illallaahu wahdah, anjaza wa'dah, wanashara 'abdah, wahazamal ahzaaba wahdah," dan teruskan dengan doa sesuka hatinya sambil mengangkat kedua belah tangan. Ulangilah dzikir dan doa tersebut tiga kali, kemudian turun dan berjalanlah menuju Marwah. Ketika sampai pada tanda hijau –bagi pria- disunnahkan untuk raml –berjalan cepat- sampai tanda hijau kedua. Hal ini tidak berlaku bagi kaum wanita. Setelah itu naiklah ke bukit Marwah atu berhenti sejenak sambil melakukan seperti apa yang telah dilakukan di bukit Shafa selain ayat pertama. Karena bacaan ayat tersebut berlaku pada saat menaiki bukit Shafa pada putaran pertama seperti tindakan yang dilakukan Rasulullah r. Lalu turun dan berjalan ke Shafa dan melakukan tindakan yang sama saat melintasi dua buah tanda jijau. Lakukan hal seperti itu tujuh kali putaran. Pergi dan datang, masing-masing dihitung satu putaran. Boleh bersa'i dengan menaiki kursi roda atau alat lainnya. Dalam pelaksanaan ibadah sa'i disunnahkan memperbanyak dzikir dan doa serta dalam kondisi suci dari hadats besar atau kecil. Jika melakukannya dalam kondisi tidak suci (tidak memiliki wudhu), maka cukup dan sah.
Setelah melakukan sa'i maka bagi kaum pria bertahallu yaitu dengan menggundul kepadalnya atau hanya sekedar memendekkannya, hanya saja lebih utama. Jika pelaksanaannya amat dekat dengan masa haji, maka yang lebih afdahal baginya adalah memotong pendek saja agar pada tahallu haji nanti dapat menggundulnya. Sedangkan bagi wanita maka sebaiknya dia mengumpulkan rambutnya lalu memotongnya seukuran ujung jari. Jika orang yang berumrah telah melakukan hal-hal di ats maka telahh selesai dan sempurna umrahnya serta hala kembali baginya apa saja yang telah diharamkan saat pelaksanaan umrah.
TAMBAHAN PENTING
Rukun-rukun Umrah:
a) Ihram yaitu berniat masuk dalam rangkaian pelaksanaan ibadah umrah setelah mandi dan mengenakan pakaian ihram.
b) Thawaf yaitu tindakan mengelilingi Ka'bah 7 kali putaran.
c) Sa'i yaitu rangkaian perjalanan antara bukit Shafa dan Marwah 7 kali putaran pula.
Adapun Hal-hal yang Diwajibkan Dalam Umrah:
Melakukan ihram (niat dan pakaian) dari miqat.
Menggundul atau memotong pendek rambut kepala, tapi menggundulnya lebih afdhal karena didoakan tiga kali oleh Rasulullah .
Larangan-larangan Umrah:
ý Menghilangkan rambut; mencabut atau memotongnya.
ý Memotong kuku tangan atau kaki.
ý Memakai parfum dan wewangian lainnya.
ý Membunuh binatang buruan darat atau membantu orang yang sedang berburu.
ý Memakai sesuatu yang berjahit (hanya khusus bagi kaum Adam) seperti baju, celana dalam atau luar, kaos, sarung tangan dan ataupun kaos kaki. Sedangkan memakai sandal, jam tangan atau sabuk yang berjahit adalah boleh.
ý Menutup kepala atau muka dengan sesuatu yang melekat (bagi kaum pria) seperti mengenakan peci, surban, dan yang semissal. Adapun berteduh dengan payung, kemah atau mobil adalah boleh. Demikian pula boleh membawa brang-barang dengan kepala jika memang tujuannya bukan untuk menutupinya.
ý Memakai niqab (cadar) dan sarung tangan bagi kaum wanita. Hanya saja jika mereka berada di sekitar kaum pria bukan muhrimnya, maka mereka wajib menutup wajahnya dengan selain niqab dan sarung tangan tapi dengan kerudung dan memasukkan tangannya ke pakaian lebarnya.
ý Mengadakan akad nikah.
ý Jima' (bersetubuh).
ý Bersentuhan dengan wanita lain (non muhrimnya) disertai dengan nafsu shawat.
ý Mengeluarkan mani, baik dengan tangan (onani) atau dengan bersentuhan dan atau cara lainnya.
Mengenai pelanggar larangan umrah, ada tiga kelompok yaitu:
Orang yang melanggar larangan tersebut tanpa udzur. Maka dia berdosa dan wajib membayar fidyah yaitu mengerjakan salah satu di antara; menyembelih kambing tanpa memakan sedikitpun dagingnya, memberi makan 6 orang miskin dengan 1.25 kg bagi setiap orangnya atau berpuasa tiga hari.
Orang melanggarnya sebab kepentingan seperti orang yang memotong rambut karena tertimpa penyakit. Maka dia boleh melakukannya tanpa berdosa, tapi dia wajib membayar fidyah.
Orang melanggarnya karena udzur syar'i seperti; dalam keadaan tidur, lupa, tak tahu atau dipaksa orang lian. Maka dia tidak berdosa dan tidak terkena sanksi membayar fidyah.
BEBERAPA MASALAH TAMBAHAN.
Jika shalat telah di-iqamatkan atau terdapat shalat mayat pada pertengahan thawaf anda, maka ikutlah shalat bersama imam. Kemudian sempurnakan bilangan thawaf dari tempat anda berhenti. Dan jangan lupa –saat shalat- menutup kedua bahu anda. Karena menutup kedua bahu termasuk hal yang wajib dalam shalat.
Di pertengahan thawaf, anda diperbolehkan istirahat sejenak atau minum atau berpindah dari lantai bawah ke lantai atas atau sebaliknya. Lalu lanjutkan dan sempurnakan kekurangan hitungan thawaf anda.
Jika anda ragu-ragu dalam hitungan thawaf, maka tetapkan dengan keyakinan yaitu bilangan yang lebih sedikit. Misalnya anda ragu-ragu antar tiga dan empat putaran, maka tetapkan tiga putaran. Lain halnya jika memang anda lebih yakin dan mantap terhadap hitungan tertentu, maka teruskanlah dan kerjakanlah berdasarkan keyakinan tersebut.
Sebagian jama'ah umrah atau haji ada yang melakukan idh-tiba' (membuka bahu kanan dan menutup bahu kiri) mulai dari miqat dan terus mengenakannya pada seluruh pelaksanaan ibadah umrah atau hajinya. Ini adalah tidak benar, karena yang dicontohkan dan disyari'atkan Rasulullah adlah menutup kedua belah bahunya, beliau tidak melakukan idh-tiba' kecuali pada thawaf permulaan datang memasuki Masjidil Haram saja.
Demikian, semoga Allah senantiasa memberi kita taufiq untuk memahami agamaNya dan berpegang teguh kepdanya serta berkenan menerima segala amal ibadah kita karena sesungguhnya Dia Maha Pemberi lagi Mulia. Dan akhirnya, shalawat dan salam dilimpahkan selalu kepada Nabi kita Muhammad, semua anggota keluarga dan para sahabatnya serta setiap orang yang mengikutinya dengan baik hingga hari Kiamat, Amien yaa Mujiibas Saa-lien.
(ABU NABIEL AM. AFANDI)
Read More

Tata Cara Umroh Terlengkap

Tata Cara Umroh Terlengkap

tata cara umroh, tata cara umrah, umroh 2013, paket umroh 2013,

 

Tata Cara Umroh Terlengkap

Melaksanakan ibadah umroh tentunya menjadi suatu impian setiap umat muslim. Tetapi untuk melaksanakan ibadah umroh sendiri tidak banyak orang mengetahui tata cara umroh yang baik dan benar bukan?

Nah maka dari itu, artikel yang kali ini baca dapat membantu anda dalam melaksanakan tata cara umroh kali ini cheria travel akan memposting beberapa artikel menarik yang perlu anda ketahui bahwa sebelumnya ada beberapa hal terpenting dalam pelaksanaan ibadah umroh anda, yaitu tata cara melaksanakan ibadah umroh anda dengan benar itu seperti bagaimana.

Dalam pelaksanaan tata cara umroh terlengkap memang sangat penting sekali supaya lebih afdhal dalam pelaksanaanya. Maka pelaksanaannya, yaitu :

Dimulai dari keberangkatannya para jamaah dari madinah menuju tempat miqat dimana tempat ini merupakan tempat dimulainya niat umroh dan berpakaian ihram tepat di Bir Ali. Namun boleh juga sejak di Madinah mulai memakai pakaian ihrom, tetapi niatnya tetap dimulai di Bir Ali. Setelah berganti pakaian, shalat sunnah ihram 2 rakaat.

Niat umroh yang wajib di baca oleh para jamaah dalam pelaksanaan ibadah haji, yaitu : 
"Labbaikallohumma umrotan".
("Saya penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk melaksanakan umroh")

Sejak memakai pakaian ihrom, tidak boleh menggunakan wangi-wangian, mandi memakai sabun, sikat gigi pakai odol, memakai peci atau pakaian lain, dan berhubungan suami istri.

Sepanjang perjalanan menuju ke Makkah, membaca kalimat talbiyah sebanyak-banyaknya :"Labbaikallohumma labbaik. Labbaika la syarikalaka labaik. Innal hamda wanni'mata laka wal mulk, la syarikalak".  
Sesampai di Masjidil Haram, tawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali. Putaran 1-3 berlari-lari kecil. Putaran 4-7 berjalan biasa. Tempat awal mulai tawaf : garis lurus (tapi garisnya tidak ada) antara pintu Ka'bah dan tanda lampu yang di pasang di sisi masjid. Pada batas ini, sambil melihat ke Ka'bah, kita melambaikan tangan 3 kali sambil mengucapkan : "Bismillah, Allahu Akbar".

Sepanjang tawaf membaca do'a. Untuk mudahnya bisa membaca do'a sapu jagad : "Rabbana atina fiddun-ya hasanah, wafil akhirati hasanah waqina adzabannar". 
Lalu para jamaah melaksanakan Shalat 2 rakaat di depan makam Ibrahim. Dan disarankan untuk Minum air zam-zam. Sebelumnya berdoa terlebih dahulu. 
Sa'i antara Shofa dan Marwa, 7 kali bolak balik. Cara menghitungnya adalah dari Shofa ke Marwa 1, Marwa ke Shofa 2 x dan seterusnya, berakhir di Marwa. Sai dilakukan dengan berjalan, tapi pada batas antara 2 lampu, berlari-lari kecil.

Setelah itu para jamaah wajib melaksanakan Cukur rambut sebagian. Bila sudah berada di Makkah, maka salah satu tempat miqatnya bisa di Tan'im. Jadi ke Tan'im dulu untuk niat ihram, baru ke Masjidil Haram untuk thawaf, dan seterusnya seperti di atas.

Dalam proses tata cara umroh terlengkap kita di perbolehkan untuk  menggantikan niat ibadah umroh orang lain tetapi ketika orang itu sudah meninggal dunia.

Untuk informasi selengkapnya mengenai tata cara umroh terlengkap anda, silahkan hubungi contact person yang telah kami sediakan di website kami.

Semoga artikel Tata cara umroh dapat membantu anda dalam menunaikan ibadah umroh anda dengan lancar. Salam cheria travel.
Read More

Kamus Haji dan Umroh


Read More

Keutamaan Haji Dan Umrah

Oleh: H. A.M. Ackman. Lc. M.Si


1. Salah Satu Ibadah Utama
Rasulullah Saw ditanya, manakah amalan yang paling utama?  Beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”, kemudian ditanya lagi, Kemudian apalagi? Jihad di jalan Allah, kemudian ditanya lagi: kemudian apalagi?” beliau menegaskan, Haji mabrur.” (HR. Bukhari Muslim)
2. Salah Satu Jalan Jihad di Jalan Allah
“Wahai Rasulullah, bolehkan kami ikut perang dan jihad bersamamu? Nabi Saw menjawab, Bagi kalian (wanita) ada jihad yang lebih baik, yaitu haji haji yang mabrur, setelah itu berkata Aisyah, sesudah mendengar sabda itu, maka aku tidak pernah lagi meninggalkan ibadah haji.” (HR.Bukhari dan Ibnu Khuzaimah)
3. Penghapus Dosa
Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang mengerjakan haji dan tidak melakukan keburukan, tidak berbuat fasiq (maksiat) maka akan kembali (dihapus semua dosanya) seperti pada saat ia dilahirkan oleh ibunya”. (HR. Bukhari, Muslim dan Nasaî).
4. Merupakan Duta-Duta Allah
Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang mengerjakan haji dan umrah merupakan duta-duta Allah, apabila mereka memohon kepada Allah niscaya Dia akan mengabulkannya dan bila mereka meminta ampun, niscaya Dia akan mengampuninya”. (HR Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
5. Antara Umrah ke Umrah Penghapus dosa
Rasulullah Saw bersabda: “antara umrah yang satu dan umrah lainnya, adalah kafarat (penghapus dosa) diantara keduanya, sedangkan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR Bukhari, Muslim, Malik, Tirmidzi, Nasaî, Ibnu Majah dan ash-Ashbahani).
6. Dana Haji Sama Dengan Infaq Di Jalan Allah
Nabi Saw bersabda, “Dana haji sama dengan biaya untuk perang di jalan Allah, satu dirham menjadi tujuh ratus lipat ganda.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Baihaqi dengan sanad yang baik)
7. Umrah Ramadhan Berpahala Ibadah Haji
Nabi Saw bersabda: “Umrah di bulan Ramadlan sama pahalannya dengan mengerjakan Haji.” (HR Ibnu Majah)
8. Seperti berhaji Dengan Nabi Saw
Nabi Saw bersabda,” Wahai Ummu Sulaim, sesungguhnya berumrah di bulan Ramadlan sama pahalannya dengan mengerjakan Haji bersamaku.”(HR Ibnu Hibban)
Read More

Lakukan Hal ini Sebelum Anda Berumrah


Oleh: H. A. M. Ackman. Lc. M.Si

Sebelum Anda berumrah ada beberapa amalan penting yang tidak boleh dilupakan. Dan amalan ini merupakan penyempurna ibadah Umroh itu sendiri, karena peroleh Mabrur atau MAqbul dalam Umroh itu terkait dengan amalan sebelum berangkat. Karena tidak mungkin bahwa Mabrur, soleh ataupun takwa itu sendiri diperoleh hanya dalam waktu 1 minggu saja tanpa persiapan lahir batin di tanah air.
Persiapan Di Tanah Air
Persiapan Dhohir
  • Bertobat dari segala dosa dan maksiat, baik dosa kepada Allah Swt, yaitu pelanggaran dari segala larangan-Nya dan keengganan melaksanakan perintahNya, maupun dosa kepada sesama manusia.
  • Meminta izin orang tua atau yang dituakannya.
  • Membayar segala utang, mengembalikan harta yang diperoleh dengan cara zhalim (korupsi) dan aniaya (merampas hak orang lain).
  • Dana yang digunakan benar-benar halal dan bersih.
  • Menyiapkan nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkan.
  • Banyak bersedekah kepada dhuafa, fakir dan miskin.
  • Carilah kawan seperjalanan yang saleh, yang baik, senang menolong, sering mengingatkan jika lupa, suka menegur jika ada kesalahan, memotivasi kepada keteguhan dan kesabaran.
  • Sebelum berangkat, berpamitan kepada teman, tetangga dan saudara lainya yang berdekatan. Meminta restu mereka, dan mendoakan untuk mereka

Persiapan Batin
  • Niat dan tujuan semata-mata karena Allah Swt, dan bukan untuk mencari kemasyhuran dan gelar.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Meninggalkan rafats (ucapan kotor; tidak berguna), fusûq (maksiat, keluar dari ketaatan kepada Allah Swt), dan jidâl (berbantahan, bertengkar dll)
  • Rendah hati, lemah-lembut, mengutamakan kebaikan, budi pekerti yang baik. Tidak menyakiti orang lain, husnu zhan (berbaik sangka), sabar dan tabah dalam menghadapi perbuatan yang tidak menyenangkan dan menyakitkan
  • Ikhlas dalam segala ucapan dan perbuatan. Tidak memperhitungkan segala apa yang telah dikeluarkan untuk menyempurnakan ibadah haji maupun umrah
  • Ikhlas dan sabar dalam menghadapi musibah atau kerugian yang menimpa fisik dan harta. Sebab segala musibah dan kerugian yang diterima secara ikhlas, termasuk kebaikan berpahala di sisi Allah Swt
Menjelang Berangkat
  • Salat sunat Safar (bepergian) dua rakaat dengan membaca Fatihah dan al-Kafirun di rakaat pertama dan Fatihah dan al-Ikhlas di rakaat kedua. Boleh membaca Ayat Kursi1 atau Surat al-Quraisy dan satu kali sebelum keluar rumah atau doa lainnya yang dihafal dan disukai.
  • Berdoa bagi keluarga maupun teman yang ditinggalkan
  • Ketika naik kendaraan atau pesawat terbang bacalah doa
Bismillah
Setelah duduk membaca lagi:

Alhamdulillah
Diteruskan dengan membaca:

Subhânaladzî sakhara lanâ hâdzâ wa mâ kunnâ lahû muqrinîn wa innâ ilâ robbinâ lamunqolibûn
“Segala puji bagi Allah yang telah memudahkan kami (padahal) kami tidak sanggup mengendalikannya. sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah.” (QS. Al-Zukhruf: 14)

Diteruskan dengan membaca:

Allahu Akbar 3 x
Atau membaca:

Subhânaka innî dzolamtu nafsî faghfir lî innahû lâ yaghfiru dzunûb illâ anta
“Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku menganiaya diriku sendiri (maka) ampuni aku karena tidak ada (yang) bisa mengampuni kecuali Engkau.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasaî dengan sanad sahih)
  • Selalu dalam keadaan berwudlu dan shalat berjamaah
  • Banyaklah berbuat kebaikan dalam perjalanan selain sabar  dan tawakal kepada Allah Swt
  • Berdoalah di setiap kesempatan dalam perjalanan karena doa yang sedang bepergian mustajab sebagaimana disebutkan dalam hadist:
“Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan: doa orang yang dizhalimi, doa orang yang sedang bepergian, dan doa orang tua kepada anaknya.” (HR. Tirmidzi)


2.  Tata Cara Umrah
Melaksanakan Sunat-Sunat Ihram
  • Sebelum ihram rapikan kuku, rambut, jenggot, kumis, bulu ketiak dan bulu lainnya. Kemudian mandi (membasahi badan dari kepala sampai kaki), menyela-nyela jari tangan dan kaki, kemudian berwudhu.
  • Selanjutnya mengenakan pakaian ihram. Bagi pria yang satu disebut Rida (kain bagian atas) dan Izzar (kain bagian bawah).
  • Pakaian ihram untuk wanita sama halnya dengan pakaian ketika shalat. Yaitu jilbab yang harus menutupi seluruh rambut (rambut tidak boleh terlihat). Baju harus menutupi dada. Tidak boleh memakai pakain tipis hingga terlihat rambut atau kulit, selain telapak muka dan telapak tangan. Kaki memakai kaos kaki/stoking.
  • Sebelum niat boleh memakai wewangian, body lotion, parfum dan lainnya. Namun tidak boleh dilakukan sesudah niat.
  • Bila salat wajib didirikan, kerjakan salat sunat ihram setelahnya, atau boleh menjadikan salat wajib itu penganti salat sunat ihram.

Perhatian
  • Shalat sunnat ini tidak diniatkan untuk ihram, tapi berniat mengerjakan shalat sunnat yang disebabkan satu sebab. Misalnya shalat dhuha, shalat hajat, tahiyatul masjid dll.
  • Yang bermiqat di Madinah sebaiknya mengerjakan semua sunah ihram di hotel.
  • Setelah berpakaian ihram, salat sunat dan niat dilakukan di Bir Ali.

2. Ihram Umrah
Ihram umrah adalah niat untuk melaksanakan umrah kemudian diikuti dengan Talbiyah. Ihram umrah ini merupakan tanda telah masuknya rangkaian ibadah umrah dengan diharamkannya melakukan segala sesuatu selama melalaksanakan umrah sebagaimana takbiratul ihram dalam shalat.
Niat untuk umrah antara lain:
Labbaika Allâhuma Umratan
“Aku taati panggilan-Mu untuk melakukan umrah”

Setelah niat tidak boleh melanggar larangan ihram. Tidak boleh berkata buruk, mengunjing, bertengkar, berdebat yang tidak bermanfaat dan larangan lainnya untuk menjaga kesempurnaan umrah. Banyaklah membaca talbiyah:

Labaîk allâhumma labaîk, labaîk lâ syarîka laka labaîk, innal hamda wan ni’mata laka wal mulku, lâ syarîka laka
“Aku penuhi seruan-Mu Ya Allah, aku penuhi seruan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan seluruh kerajaan milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Setelah berulang kali membaca talbiyah diselingi shalawat:
allâhumma shalli wa sallim ‘alâ muhammad wa ‘alâ Ali muhammad
“Ya Allah limpahkan kesejahteraan dan keselematan kepada Muhammad dan keluarganya.”
Kemudian bacalah doa yang disukai, misalnya doa:
allâhumma inna nas-aluka ridhâka wal jannah wa naûdzubika min sakhatika wannâr.
Ya Allah kami meminta ridha-Mu dan surgaMu. Kami berlindung dari kemarahan dan api neraka.”

3. Masuk ke Masjidil Haram
Ketika masuk masjid dahulukan kaki kanan dengan membaca:
Allahumaftah lî abwâba rohmatika
“Ya Allah bukakan bagiku semua pintu RahmatMu.”
Kemudian berjalan dengan tenang dan khusuk sambil membaca talbiyah.
Ketika melihat Kabah berdoa sambil mengangkat kedua tangan:

Allahumma zid hâdzal baita tasyrîfan wa ta’dzîman wa takrîman wa mahabatan wa zid man syarrafahu wa karamahu mimman hajjahu wa’tamarahu tasyrîfan wa ta’dzîman wa takrîman wa birran
“Ya Allah tambahlah kehormatan, kebesaran, kemuliaan dan kemegahan rumah ini. Tambahkan pula kehormatan, kebesaran, kemuliaan dan kebaikan bagi yang telah menghormati dan memuliakan rumahMu dari orang yang berhaji dan umrah.” (HR. Syafi’i) dan lainnya)
Setelah itu berdoalah menurut keinginan anda.

4. Memulai Tawaf
Ketika hendak tawaf benarkan letak baju ihram menjadi Idhthiba. Yaitu ujung baju ihram bagian kanan disimpan di pundak sebelah kiri.
Mulailah tawaf dengan berjalan cepat (raml) di tiga putaran pertama sambil idhtihba di seluruh putaran. Dan bacalah doa diatas setiap kali Isyarah (melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad) .
Ketika raml bacalah doa ini:

Allâhumaj’alhû hajjan mabrûran wa dzanban maghfûran wa sa’yan masykûran
“Ya Allah jadikan aku haji yang mabrur, dosa yang diampuni dan sai yang diampuni.” (HR. Syafi’i)

Perhatian
  • Raml (berjalan cepat) di 3 putaran pertama tawaf hanya disunahkan ketika pertama kali tawaf umrah dalam satu pejalanan. Dan tidak disunahkan pada tawaf sesudahnya. Bila tidak mampu maka berusaha semampunya ber-raml. Bila tidak sanggup juga berjalanlah biasa. Raml hanya disunahkan bagi laki-laki.
  • Idhtiba disunahkan dalam setiap tawaf untuk umrah.
  • Tidak ada doa khusus dalam setiap putaran tawaf. Bacalah doa yang dikuasai. Doa dalam Al-Qur’an dan Hadist lebih diutamakan.

Selesai raml pada 3 putaran pertama mulai mulai berjalan biasa pada empat putaran akhir.  Pada putaran selanjutnya bacalah:
Allâhumaghfir warham wa’fu ‘amma ta’lam wa antal a’azul akrom, Allâhuma robbanâ âtinâ fiddunyâ hasanah wa fil âkhirati hasanah wa qinâ adzabanâr
“Ya Allah rahmati dan ampunilah aku dari dosa yang Engkau ketahui, karena Engkau Maha Besar dan Mulia. Ya Allah berilah aku kebaikan dunia dan akhirat, bebaskan aku dari api neraka.”

Selama tawaf bacalah dzikir dan doa pilihan anda atau membaca doa ini:
Subhânallahi wal hamdulillâhi wa lâ illâha illallah wallâhu akbar wa lâ haula wa lâ quwwata illa billâhi
“Maha Suci Allah, Segala puji bagiNya dan tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar dan tidak ada daya upaya kecuali dari Allah.” (HR. Ibnu Majah)


5. Rukun Yamani
Di Rukun Yamani (sudut yang berdampingan dengan Hajar Aswad) isyarah (tangan diarahkan) dengan tangan kanan tanpa mencium tangan sesudahnya.
Antara Rukun Yamani dengan Hajar Aswad bacalah doa:

Allâhumma rabbanâ âtinâ fiddunyâ hasanah wa fil âkhirati hasanah wa qinâ adzabannâr
“Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan akhirat, dan selamatkan kami dari api neraka.”


6. Salat di Maqam Ibrahim
Selesai tawaf kemudian menuju maqam Ibrahim sambil membaca:
Wattakidzû min maqâmi ibrâhîma mushollâ
Dan Jadikanlah sebagian dari Maqam Ibrahim tempat salat.”
Pakaian yang tadinya idhthiba dilepas dan selimutkan ke badan kemudian salat sunnat dua raka’at. Rakaat pertama membaca Fatihah dan al-Kafirun, rakaat kedua membaca fatihah dan al-Ikhlas. Sesudah salat bacalah menurut keinginan anda.


Perhatian
  • Tidak ada doa khusus dalam setiap putaran tawaf kecuali hanya beberapa doa yang telah disebutkan diatas. Anda boleh membaca doa sendiri atau dengan bahasa yang anda kuasai.
  • Tidak disunahkan mengusap, mencium atau menempelkan benda untuk mengambil berkah karena hal ini tidak diajarkan Nabi saw.
  • Mencium Hajar Aswad adalah sunah sedangkan menghormati sesama Muslim wajib hukumnya, maka jangan mengejar pahala sunah namun berakibat dosa.
  • Jangan paksakan mencium Hajar Aswad bila keadaan penuh sesak. Bila keadaan penuh sesak dan tidak memungkinkan raml, berjalan biasa atau tetap raml semampunya.
  • Jangan paksakan salat yang berhadapan langsung dengan maqam Ibrahim bila penuh sesak, carilah tempat kosong. Kemudian Istilam (bila memungkinkan) ke arah Hajar Aswad sambil berdoa di Multazam (bila memungkinkan) atau cukup berdoa di tempat anda berada.
  • Maqam Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim, maka hindari mengusap, mencium untuk mengharap berkah. Ingat! Jangan rusak ibadah anda dengan perbuatan yang tidak ada tuntunannya.
  • Ketika umrah berikutnya dalam tawaf hanya berjalan biasa tanpa raml maupun idhtiba.


7. Minum Air Zam-zam
Sebelum Sai disunahkan minum air Zam-Zam sambil menghadap Kabah. Ketika minum, bernafas 3 kali kemudian sisa air minum diusapkan ke kepala, muka dan dada.


8. Sai
Sebelum ke shafa letakan kembali pakain dengan cara idhthiba’ (bagi laki-laki) dan ketika mendekat shafa bacalah:
Innash-shofâ wal marwata min sya’â-irillâhi, Abda-u bimâ bada Allâh bihi
“Sesungguhanya Shafa dan Marwah sebagian dari syiar Allah. Aku mulai dengan apa yang dimulai Allah.”
Ketika sampai di Shafa menghadap Kabah dengan mengangkat kedua tangan sambil membaca:
Allahu Akbar 3 x


Lâ ilâha illallahu wahdahu lâ syarîka lahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyî wa yumîtu wa huwa ‘alâ kulli syai-in qadîir, Lâ ilâhi illallahu wahdahu, anjaza wa’dahu wa nasharo ’abdahu wahazamal ahzâba wahdahu
“Tidak ada Tuhan selain Allah tidak ada sekutu bagiNya, milik-Nya semua kerajaan dan pujian. Ia yang menghidupkan dan yang mematikan, Ia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tidak ada Tuhan selain Allah, ditepati janji-Nya, dibela hambaNya dan dikalahkan semua musuh olehNya.”

Bacalah doa ini 3 x kemudian mulai berjalan untuk Sai.
Bagi laki-laki ketika berada diantara dua lampu hijau berjalan cepat (raml) sambil membaca:

Rabbighfir warham wa tajâwaz ‘amma ta’lam innaka antal a’azul akrom, Allâhumma âtina fiddunyâ hasanah wa fil âkhiroti hasanah wa qinâ adzabannâr
“Ya Allah ampuni aku, hapuskan segala dosa yang Engkau ketahui, (karena) sesungguhnya Engkau Maha Mulia dan Maha Besar. Ya Allah berilah aku kebaikan dunia akhirat dan selamatkan aku dari api neraka.”

Selesai Raml berjalan biasa lagi hingga di Marwah. Ketika sampai di Mawah menghadap kiblat sambil bertakbir dan berdoa seperti di permulaan Sai. Kemudian mulai berjalan kearah Shafa dan be-raml ketika melewati dua lampu hijau.
Sai dilakukan tujuh putaran, antara Shafa dan Marwah dihitung satu putaran dan begitu pula sebaliknya dan sai akan berakhir di Marwah.

9. Tahallul
Selesai Sai kemudian Tahallul dengan menggunting atau mencukur rambut sedangkan bagi wanita hanya mengunting beberapa helai rambut sepanjang ruas jari saja. Ketika mencukur rambut mulailah mencukurnya pada bagian sebelah kanan kepala dan berdoa:
Allâhummaghfir lil muhalliqîna wa lil muqoshirîn
Ya Allah, ampunilah orang yang bercukur dan yang bergunting.”
Mengunting atau memotong rambut boleh dilakukan oleh siapa saja, anak kecil ke orang tua atau sebaliknya, istri kepada suaminya atau sebaliknya. Hendaknya wanita dipotong oleh muhrimnya. Anda menjadi halal kembali dan selesailah umrah anda.

Bermîqât Dari Tan’îm atau Ji’ranah
Selama berada di Mekah dianjurkan untuk memperbanyak umrah.
Sebaiknya semua kesunahan ihrâm dilakukan di hotel termasuk mandi dan berpakaian ihrâm. Sampai mîqât hanya salat sunnah ihrâm dan berniat kemudian kembali lagi ke Masjidil Haram untuk Tawâf, saî dan tahallul.
Umrah ini tidak disunahkan Raml ketika Tawâf.

Tawaf Wada’ Bagi Yang Berumah
Bagi yang berumrah selain di bulan haji, ketika akan meninggalkan kota Mekkah disunahkan melakukan Thawaf Wada. Caranya seperti melakukan Thawaf Sunnah.
Sunnahnya diakhiri dengan shalat sunnat thawaf setelah 7 kali thawaf. Bagi wanita yang berhalangan (haid, nifas dll) tidak disarankan thawaf wada’ dan cukup berdoa di pintu Masjid al-Haram.



Daftar Pustaka

1.   Gayo, H.M. Iwan, 2004, Buku Pintar Haji dan Umrah (Jakarta: Pustaka Warga Negara)
2.    Juzayrî, Abdul Rahman, 1990, Kitâb al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-‘Arba’ah (Beirut: Dar al-Fikr)
3.    Khiyari, Ahmad, 1993, Tarîkh al-Ma’alim al-Madînah al Munawwarah Qadîman wa Hadîtsan (Jeddah, Dar al-‘Ilm)
4.    Khurbûthulî, Ali, tt, Tarîkh Ka’bah, (Beirut: Dar al- Jail)
5.    Mubarakfurî, Shafiyyurahmân. 2002, Tarikh Makkah al- Mukarramah, (Riyadh: Dar as-Salam)
6.    Mundzirî, Abdul ‘Adzîm, 1992, Tahdzîb at-Targhîb wa at- Tarhîb. (Beirut: Darul Jail)
7.    Nawawî, Muhyidîn, tt, al-Majmû Syarh al-Muhaddzab, (Beirut: Darul Fikri)
8.     _________________ al-Adzkâr (Beirut: Dar al-Fikr)
9.    _________________ Syarh Muslim, (Beirut: Dar Kutub ‘Ilmiyyah)
10.  Râwah, Abdul Fattâh, 2003, Kitâb al-Îdhâh Fî Manâsik al-Hajj wa al-Umrah, Cetakan Kelima, (Mekkah: Maktab al- Imdâdiyyah)
11.  Rousydy, Latif, 1989, Manasik Haji dan Umrah Rasulullah s.a.w (Medan: Rimbow)
12.  Sâbiq, Sayyid, 1992, Fiqh as-Sunnah (Beirut: Dar al-Fikr)
13.  Shihab, Quraish, 2003, Haji bersama M. Quraish Shihab (Bandung: Mizan)
14.  Qudâmah, Ibnu, 1997, al-Mughnî, Cetakan Kedua, (Mekah: Mustaphâ al-Bâz)
15.  Qârî, Mulâ ‘Alî, 1998, Irsyad asy-Syârî, Cetakan Pertama, (Mekkah: ‘Abbâs Ahmad al-Bâz)
16.  Zuhaylî, Wahbah, 1989, al-Fiqh al-Islamiyyah wa Adilatuhu (Beirut: Dar al-Fikr)
Read More